Siang itu aku menemani Sarah ke rumah sakit. Sarah adalah rekan kerjaku di kantor. Beberapa hari yang lalu dia mengalami kecelakaan saat pulang kerja. Sepeda motor yang dinaikinya tersenggol oleh pengendara lain hingga akhirnya jatuh dan mengalami cedera di kaki kanannya akibat terbentur badan jalan. Melihat kakinya yang membengkat begitu besar membuat aku sungguh tidak tega. Aku ingat saat peristiwa itu terjadi, dia menelfunku dan mengatakan bahwa dia berada dirumah sakit karena terjatuh. Tanpa pikir panjang langsung kupacu sepeda motorku menuju rumah sakit dan ketika kumasuki ruangan, Sarah sudah terbaring berurai air mata menahan kakinya yang sakit. Sifat cerewetnya yang aku suka, kalau sudah bicara susah sekali untuk berhenti. Meskipun begitu aku begitu nyaman dengannya. Sarahlah yang selama ini dengan setia menemaniku dan mendengarkan keluh kesahku. Kami berdua sudah seperti saudara meskipun kami tidak lahir dari rahim yang sama.

Aku duduk di luar ruangan periksa dokter. Kutinggalkan Sarah sendirian untuk menjalani pemeriksaanya. Tidak lama beselang, mataku tertuju pada sosok pria yang berjalan di koridor rumah sakit itu. Kulihat dari tempat dudukku, masih Nampak samar wajahnya. Namun,entah mengapa ada rasa gelisah yang menyusupiku perlahan-lahan. Aku seperti tidak asing dengan sosok pria itu. Dia berjalan pelan semakin mendekat ke tempatku duduk. Kutatap lekat sosok itu, ada harap ingin memastikan bahwa dugaanku tidak keliru. Benarkah pria itu yang selama ini mengusik kedamaian hatiku? Tak lama matanya beradu pandang denganku. Hatiku berdegup kencang tidak karuan. Ada desiran yang begitu dahsyat mengaliri nadiku. “Ya Allah, benar dia…..”, gumamku dalam hati

Langkahnya semakin cepat dan seperti yang aku fikirkan, dia berjalan kearahku dengan pandangan yang sama ragunya denganku. Aku bisa merasakannya. Aku bangkit dari tempat dudukku dan tak lama berselang, pria itu sudah berdiri tepat di hadapanku.Ada kelu disana.Ada kerinduan yang begitu membuncah memenuhi rongga dadaku. Rindu yang tiba-tiba hadir dan membuatku merasa begitu sesak. Aku seperti kehilangan oksigen,begitu sesak. Ada kalut yang tiba-tiba merasuki jiwaku perlahan-lahan. Kerongkonganku tercekat tak mampu berkata apa-apa. Pria itu menyapaku, “Senja? Kau disini? “, ucapnya seraya menatapku lekat.

Aku mengangguk pelan. Kurasakan irama masa lalu melantun kembali memenuhi pikiranku. Kami tak pernah bertemu 4 tahun lamanya. Pria itu…. Ya, bunga anggrekku yang hilang. “Mas Awan, kaukah itu? ’’, gumamku pelan. Diraihnya tanganku dan mata kami berkaca-kaca. Saat itu, tanpa kata….hening…diam, mematung penuh rindu.

Pintu praktik dokter di mana Sarah diperiksa dibuka. Sarah keluar dari ruangan itu dan matanya tertuju pada kami berdua. “Senja, siapa pria ini? ’’, Tanya Sarah penuh selidik.

Bersambung …