Hujan mengguyur seluruh tubuhku di sepanjang jalan sore itu. Dadaku terus saja bergemuruh, berpacu dengan riuhnya butir-butir hujan yang semakin deras. Tak kuhiraukan lagi dinginnya tubuhku, terselip resah yang begitu menyeruak dalam hati. Kata-katanya terngiang-ngiang jelas dalam pikiran tak bisa hilang bagaikan terus menari dalam ingatan ini. Pernyataan yang begitu jelas, namun tetap saja tak bisa kuterima. Masih kuingat tatapan matanya, mata yang begitu lekat dan tajam. Tak bisa kualihkan bayangan wajahnya meskipun hanya sejenak saja. “Aku tak bisa mas, maafkan aku…..”

Tak terasa air matakupun meleleh, batin inipun terasa semakin tersayat dengan penolakanku sendiri. Bukan karena aku tak merasakan hal yang sama, bukan aku tak mengerti perasaannya, dan bukan karena aku tak bisa memahaminya. Kutinggalkan pria itu begitu saja tanpa kejelasan. Kulihat matanya sayu, ada gurat kecewa di sana. Aku sungguh tak tega melihatnya seperti itu. Namun aku tak punya pilihan.

Malamnya tetap saja hatiku merasa tidak tenang. Kualihkan perhatianku pada pekerjaan kantorku yang masih menumpuk. Tak lama handphone ku berdering, dan benar saja itu panggilan darinya, dari Mas Hafi. Tak kuasa ku menahan perasaan yang sedari sore terus saja berkecamuk ini. Aku mulai ragu dengan perasaanku sendiri, aku mulai lemah dengan keteguhanku saat kuuraih telfunnya dan saat kudengar kata-katanya.

“Maafkan aku dek Senja, seharusnya aku bisa memahami perasaanmu. Seharusnya aku tak memaksakan perasaan ini, maafkan aku”. Begitu kata-kata mas Hafy membuat air mataku kembali menetes. Kututup telfunnya, butir bening mengalir membasahi wajahku, kembali ingatanku melayang, menari diantara warna-warni lembaran hidupku beberapa tahun yang lalu.

Dia hadir dalam hidupku, memberikan aku nafas baru. Mengajariku apa arti cinta dan hingga detik ini namanya begitu rapi kusimpan dalam hatiku. Aku tak bisa memungkirinya, betapa aku menginginkannya. Aku menginginkan dia menemaniku, mendampingi hidupku, menjalani setiap kisah hidupku, mendengarkan celotehanku, membagi rasaku, bahagiaku, lelahku dan semuanya. Aku begitu mencintainya. Bahkan hingga 4 tahun berlalu, aku masih saja seperti ini, tak bisa bangkit. Terlalu sulit untuk kembali pulih seperti sedia kala. Dia bagaikan bunga anggrek yang begitu indah, berwarna-warni sama seperti dia begitu pandainya mewarnai hari-hariku. Dia bagaikan bunga anggrek yang begitu unik yang pesonanya tak mampu ku singkirkan dari pikiranku. Anggrekku yang indah, kini telah menjadi milik orang lain. Anggrekku yang menawan yang tak mungkin bisa kulenyapkan begitu saja dari hidupku.

Aku tersiksa dengan perasaan ini, aku sakit….

Aku ingin bangkit namun aku terlalu lemah. Bahkan ketika hadir seorang pria yang sungguh-sungguh tulus padaku, aku sama sekali tak menggubrisnya. Aku terlalu egois…ya, aku begitu egois. “Maafkan aku Mas Hafy, aku tidak bisa….” Aku balas pesannya malam itu. “Tak bisakah, kau memberi aku satu kesempatan untuk menyembuhkan lukamu, Dek? Aku akan membuatmu melupakan semuanya….aku berjanji”. Balas Mas Hafy tak lama setelah itu.

Aku bungkam,aku diam.

Kumatikan ponselku, dan kucoba pejamkan mataku. Teringat kembali padanya, Anggrekku yang hilang…

Bersambung…