Di ruangan ini, ada begitu banyak suara riuh yang mengelilingiku. Hampir tak kuhiraukan kicauan mereka, anak-anak polos yang beriuh tawa dan cerita layaknya burung-burung yang asyik berkicau kesana kemari. Aku tetap merasa sendiri meski berada di tengah kerumunan dan keramaian saat ini. Aku mencoba menikmati diriku dan seluruh perasaanku saat ini. Ada rasa yang mematri begitu lama, terasa hambar dan dingin ibarat sayur tak bergaram. Getir…

Getir yang kurasa semakin menysup dan menghinggapiku. Ada rasa yang tak bisa kuluapkan, rasa yang beradu yang akupun tak bisa meredamnya hingga kini. Sudah setahun berlalu, tak pernah aku tau apa yang menyebabkan seperti sekarang ini. Ada yang salah. Tapi aku tak mengerti apa itu. Mungkinkah rasaku? Ataukah dirinya?

Aku mencoba bertanya, mengutak-atik memori demi memori yang pernah terjadi, namun semua terasa kosong, kabur, dan perlahan samar menghilang dalam rasa bingung yang merajaiku. Tak ada jawaban, hampir tak kutemui apapun. Sama seperti saat ini, waktu berjalan dan berangsur-angsur riuh tawa itu menghilang, meninggalkanku seorang diri di ruangan ini. Sepi benar-benar sepi, sama seperti saat setahun yang lalu hatiku tercampakkan oleh ketidakpastian itu.

Aku masih melihatnya, namun dia telah berubah. Dan aku tak pernah tau perubahan macam apa yang kini terjadi. Mata yang dulu teduh, tangan yang begitu hangat, bibir yang begitu manis dan belai yang begitu lembut seakan kini berubah begitu dingin. Ah…

Biarlah waktu yang menjawab.

Hanya itu yang bisa kubisikkan dalam hatiku saat ini. Aku yakin jawaban itu kelak akan muncul. Harapan itu masihlah ada, seperti fajar yang kini kembali merekah.

Anggrek, baumu harum semerbak memenuhi rongga dadaku….