Selasa, 28 April 2015

Fajar yang merekah begitu indah, setelah hampir 8 hari dia tak menampakkan dirinya. Ia merekah begitu gagah, bersinar dengan benderang memeluk seluruh semesta dengan teduhnya. Dalam sinarnya kurasakan kembali hangat menyeruak dalam jiwaku. Memeluk sebuah kenangan lalu yang belum bisa lekang dalam diriku. Ah, selalu begini…Rasa yang tak bisa kupungkiri menyentil jiwaku begitu dalam. Biar, andai dia masih ada di kalbu, biarlah dia tetap singgah hingga suatu masa jenuh kan menghampiriku. Sorotan mata itu masih sama, tajam seperti mata elang yang hendak memangsa. Namun, mata itu kini tak mungkin bisa kutatap kembali dengan balutan rasa yang sama dan sekuat dulu. Bukan…bukan karena aku berubah. Mata itulah yang berubah, dan bukan hanya itu pancarannyapun seakan memudar.

Dari ketinggian, kulihat meski samar ada dingin dalam dirinya. Getir yang terus saja membawa hatinya begitu kaku saat beradu pandang denganku. Tuhan, aku hanya berharap  ini adalah ujian bagi hatiku, kelak aku bisa melewatinya dengan baik dan bijaksana. Akan kunantikan masa dimana mata teduh itu kembali menatapku. Akan kunantikan hangat rindu hati itu kembali beradu.

Ah….

Rasanya ingin sekali kujentikkan jari jemariku ini lebih lama di tuts-tuts notebook ini. Menuliskan kisah tentang dirinya. Namun, kembali rutinitas mengharuskanku meninggalkankannya…

Aku hanya ingin kembali, suatu saat nanti…bersamamu, membaikkan semua keadaan yang telah salah kaprah ini, sembari menunggu senja hadir melahap waktu kita. Di antara kerumunan ilalang ada harum anggrek yang menyeruak…