Perjalanan hidup yang panjang ini tiap tahunnya memerlukan perubahan demi perubahan yang terkadang tak pernah terpikirkan oleh kita sebagai makhluk yang menggagas adanya perubahan itu. Pergantian tahun merupakan suatu tanda adanya kemajuan dan kemunduran sesuatu yang kita raih. Banyak hal yang perlu kita gali dari derasnya perubahan zaman yang berlalu di depan mata. Ada nilai positif dan negatifnya yang kerap mewarnai perjalanan panjang hidup kita yang harus kita ambil sebagai ibrah untuk menatap masa depan lebih bermakna.
Masih terngiang-ngiang di benak kita betapa dahsyatnya fenomena alam yang mengguncang dunia Desember tahun lalu. Kejahatan demi kejahatan mengukir angkasa dan menghujam bumi meninggalkan luka yang dalam bagi kita dan generasi mendatang. Sebut saja kejahatan terorisme, premanisme, seksual, korup, perdagangan bayi, menghalalkan segalan cara, dan masih banyak lagi. Lukisan-lukisan dengan tindasan merah menyala itu seakan menghakimi diri kita sendiri yang tengah menatapnya. Kita tidak pernah berbuat demikian tetapi kita turut merasakan dampak yang ditimbulkannya. Kita tidak pernah memikirkan dan membayangkan suatu terjadi karena ulah kita sendiri. Fenomena itu datang begitu cepat. Namun, pernahkah kita berkaca bahwa sesuatu itu ada berasap karena adanya api ?
Ingat, ketahuilah, dan sadarilah sedalam-dalamnya bahwa Allah tidak akan menguji suatu umat jika tak ada sebabnya. Alllah tidak akan menunjukkan kekuasaan-Nya jika Allah tidak menghendakinya demikian. Namun terkadang kita lupa terhadap apa yang telah diperbuat. Kita baru menyadarinya itu setelah semuanya terjadi. Kita baru tergugah hati mengulurkan tangan dan bantuan saat musibah itu datang menghadang. Mengapa bisa demikian ? Sebab kita tidak pernah bertanya pada diri sendiri mengapa orang lain bisa mengapa aku tidak, seandainya ini yang kulakukan apa yang terjadi kemudian, apa untung ruginya, dan sebagainya.
Sebagai bahan renungan bagi kita bahwa fenomena alam dan kekisruhan yang mencuat ke permukaan sampai merenggut nyawa dan banyak perhatian adalah kita penyebab utamanya. Untuk menghilangkan duka dan pelajaran mahal itu Allah sendiri yang mengibaratkannya dengan beberapa hewan ciptaan-Nya untuk kita cermati. Di antara hewan itu adalah merak, bebek, ayam, dan lebah.
Kita pun harus menyadari bahwa merak adalah burung yang amat cantik dan terindah di antara burung yang lain. Tak satu pun burung lain yang mampu mengalahkan keindahannya. Baik warna dan bentuk tubuhnya. Ini semua melukiskan tentang merak yang kerap bertingkah laku penuh dengan tipu daya, kemunafikan, kesombongan, kepongahan, keserakahan, dan yang selalu menganggap lainnya itu lebih rendah dan hina daripadanya.
Dengan bulunya yang indah, merak berkuasa untuk bertindak arogansi ,mementingkan dan membanggakan diri sendiri, menampilkan egoisme secara berlebihan, tanpa pernah memikirkan akibat yang ditimbulkan oleh tingkahnya itu. Terkadang juga, dengan sikapnya yang rada aneh itu, merak bebas leluasa bertindak, sebab yang dihadapinya adalah makhluk kecil yang tak bernyali dan bertaji. Namun di balik itu semua, merak tidak pernah memikirkan dari mana warna tubuhnya yang indah itu berasal. Dia berpikir hal itu bisa saja terjadi dengan sendirinya.
Kita juga harus belajar bagaimana seekor bebek itu hidup dan mengembangkan keturunannya. Bebek merupakan makhluk yang berparuh besar, panjang, dan lebar. Dengan paruhnya itu dia mampu berkelana sebebas mungkin tanpa harus berpikir lebih dahulu untung ruginya suatu pekerjaan yang dilakoninya. Mulutnya yang besar kerap kali menampilkan kebiasaan buruknya. Si bebek terus berkoar panjang lebar membicarakan saudaranya yang lain. Dia tidak akan pernah berhenti manakala mututnya belum terisi makanan lezat.
Dalam melakoni hidup ini bebek .senantiasa mencari makannya ke mana dia suka. Nyosor sana nyosor sini. Dengan paruhnya yang panjang, bebek mampu menembus genangan air yang sangat keruh walaupun banyak rintangan yang dibentengi dengan benteng yang kokoh. Bebek akan melibas semuanya. Yang besar, kecil, bahkan yang bukan menjadi haknya sendiri. Dia akan melakukan dengan segala cara yang menurutnya bisa mendapatkan keuntungan dan makanan yang sangat lezat. Baik itu di tempat basah, maupun di tempat yang kering sekalipun. Bebek akan gembira menyantapnya. Yang baik ataukah tidak sudah tidak dihiraukannya lagi. Yang penting perutnya terisi penuh. Nggak kelaparan dan bisa selamat dari maut. Bebek tidak akan pernah memperdulikan tetangga bahkan saudara kandungnya sendiri meskipun itu dalam keadaan sakit atau merana sekalipun.
Lain halnya dengan ayam jantan. Makhluk yang satu ini kerap pula berubah wajah dan prilaku. Si jantan dapat menjelma jadi manusia topeng yang aneh. Dialah makhluk bertopeng yang memiliki sejuta wajah. Terkadang ia baik, lain hari bisa berbuat nekad. Jika sedang baik, makanan kan dibaginya sama rata. Bahkan ia merelakan tidak makan. Buah hatinya akan dilindunginya setengah mati. Makhluk seperti ini akan mempertaruhkan raganya demi cinta dan kasihnya. Ayam jantan akan bekerja sekuat tenaga. Suaranya yang keras dan lantang mampu mengejutkan seluruh isi bumi. Gara-gara dia, semua bisa terjaga dari mimpi panjang.
Jika kenekadan si ayam jantan mencuat, semua akan dihajarnya habis-habisan dengan nafsu bejadnya yang luar biasa. Dia akan menantang lawan dengan caranya sendiri, merusak, dan menghancurkan segala penghalang di depannya dengan cara kasar dan tak berperasaan. Dia akan libas semuanya. Apakah yang kecil atau anak kandungnya sendiri, tua, maupun muda akan dilalapnya, dibuainya dengan mengumbar janji palsu dengan imbalan yang banyak, dan dia nggak takut walau dengan raja sekalipun. Hukuman baginya merupakan suatu hal yang dianggap kecil, sepele, dan tidak berarti.

Hal itu tentu bertolak belakang dan berbeda jauh dengan lebah. Dialah makhluk yang amat bersih cara hidupnya. Dia nggak mau berbuat curang, dia tidak serakah, tidak egois, dan amat mencintai sesama makhluk walau berbeda ras. Tempat makannya pun tidak sembarangan. Bukan dari periuk emas atau permata. Tidak, hanya dengan tempat sederhana, tempat yang bersih dan jauh dari kotoran najis.
Lebah tidak pula suka menggoda atau mengganggu ketentraman tetangganya. Karena itu merupakan suatu hal yang amat dilarang dalam lingkungan kerajaannya. Makhluk ini begitu patuh dan taat pada titah rajanya. Ia menerima apa adanya. Tidak banyak meminta, malahan lebih banyak memberi. Tidak pernah membantah apalagi menyakiti Pekerjaan dilakukannya dengan penuh kesabaran dan percaya diri, selesai tepat waktu, dan tidak pernah molor. Mereka senang berkumpul dan membagi rezeki.
Bila kita cermati benar prilaku binatang atau hewan tersebut, tentu kita akan bertanya pada diri sendiri, perilaku yang mana ada pada kita saat ini. Menghadapi tahun mendatang, kita dapat mengubah peradaban yang tak sesuai dengan harkat dan diri kita , jangan lagi kita saling menyalahkan, mengkambinghitamkan, membalikkan fakta, dan merasa kita yang paling benar, merasa kita yang paling bersih. Sekali-kali tidaklah demikian, tetapi mari kita isi dengan sesuatu yang penuh makna, melahirkan kasih sayang satu dengan lainnya, menumbuhkan sikap mempercayai dan menghargai sebagaimana Allah telah mengajarkan umat-Nya terdahulu.