Menjadi diriku yang apa adanya

Hampir 3 tahun sudah aku berada di tempat ini. Tempat yang nampak begitu megah dan indah dari luar, tapi sebenarnya menyimpan begitu banyak dilema yang menggunung tinggi, bak gunung himayala. Aku sangat ingat, dan memori di otakku ini masih menyimpan rapi peristiwa-demi peristiwa yang terangkai di awal-awal aku menjejakkan kakiku di tempat ini. Rasa sakit yang begitu lekat membebaniku, yang merobek keyakinanku tentang hakikat indahnya persaudaraan. Tak pernah sekalipun aku mengerti tentang indahnya persaudaraan di tempat ini. Awal yang benar-benar menyedihkan bagiku, di mana aku harus terbuang ke tempat yang menurutku salah. Salah besar, sedangkan mimpiku harus ku buang jauh-jauh ke awan sementara mimpiku tengah berada dalam genggaman tanganku. Duh Gusti, Engkau maha mengetahui segalanya. Bahkan detail setiap sudut kehidupanku, Engkau pasti berikan rahasia terbaik di dalamnya. Aku ingat jelas, saat seorang yang menganggap dirinya sok senior itu mengatakan kalimat yang membuat aku benar-benar terobek-robek. Aku diperlakukan layaknya orang asing meskipun sudah hampir 1 tahun aku berada di tempat ini. Yah….sebuah tempat yang seharusnya dijadikan ladang amal untuk saling bertukar ilmu pengetahuan dengan anak-anak, tempat yang seharusnya menjadi syurga bagi malaikat-malaikat kecil yang berhati polos, dan tempat yang seharusnya menjadi sumber kekuatan terbesar bagi par oknum-oknum yang terlibat di dalamnya. Tapi, semuanya omong kosong. Yang ku lihat disini hanyalah sosok-sosok manusia bermuka dua, yang tak pernah bisa dan mau mencerna apa hakikat dari tugas yang diembannya di tempat ini. Yang kulihat setiap detiknya adalah kesombongan, pamer akan kelebihan materinya, rasa tidak welas asih terhadap sesama, dan masih banyak seabrek perbuatan yang tidak menyenangkan yang seharusnya tidak pernah terjadi di tempat ini. Aku bukan merasa yang terbaik dari semuanya, aku hanyalah segelintir harapan yang terinjak-injak oleh kenyataan yang mengenaskan, di mana aku harus berjuang seorang diri di tempat ini. Namun, aku yakinkan semuanya akan segera berlalu, semuanya akan segera berakhir dan esok atau kapan, secepatnya aku pasti keluar dari tempat ini, dengan cara yang baik yang telah Alloh tentukan untukku, untuk hidupku, untuk kebahagiaan dunia akhiratku. Ini adalah kisah yang hilang, hilang ditelan oleh karakter-karakter manusia yang tak berhati nurani, yang hanya mengejar kebahagiaan untuk dirinya sendiri.
Tapi, aku ingin selalu mengukuhkan diri ini, untuk menjadi diriku yang sebenarnya dan apa adanya.

Biarlah semua berjalan seperti air yang mengalir, dan pada akhirnya itu jualah yang terbaik menurut pandanganNya.

Di sudut kota berhawa dingin

Seorang yang ingin belajar menjadi manusia yang lebih baik