Selepas pulang dari mengajar, kupersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan study banding di Semarang  sabtu besok. Maklumlah, rutinitas sehari-hari membuat energiku cukup terkuras habis. Perjalanan menuju tempatku mengajar memang memakan waktu yang cukup lama. Kurehatkan tubuhku sejenak, tanpa kusadari aku tertidur. Lelap sekali, lelap karena lelah begitu menggelayut dalam tubuhku. Aku serasa terhipnotis oleh angin malam yang begitu dingin. Maklumlah, kemarau kali ini benar-benar membuat malam di kota tempat tinggalkubersuhu lebih dingin dibandingkan saat musim penghujan. Buaian pesona malam begitu lekat memelukku, hingga aku tak menyadari sedari sore tadi aku kurang begitu memperhatikan istriku. Dan benar saja sabtu pagi ini, aku bangun lebih siang dibandingkan hari-hari biasanya. Segera kutunaikan kewajibanku menghadap sang maha pencipta untuk sholat subuh. Lantas kusegerakn pula mandi dan bersih-bersih diri. Selepas itu, ketika ku sedang berbenah memakai baju HP ku berdering tanda sms masuk. Sms dari seorang rekan kerjaku, Pak Mahmud. ” Pak, njenengan nunggu di mana? begitulah kira-kira isinya. Aku sempat bingung juga karena pulsa di HP ku habis. Karena tempat tinggalku lebih dekat dengan kota semarang aku memilih untuk menunggu bus sekolah di terminal saja. akan tetapi karena masih pagi aku juga tidak tau harus membeli pulsa di mana. Sesaat aku juga merasa sedikit bingung. Ku percepat persiapanku pagi itu.

Aku benar-benar tak menghiraukan istriku yang tengah sibuk mempersiapkan kebutuhanku sedari bangun tidur. Membuatkanku sarapan yang  akhirnya tak sempat kusentuh sesendokpun serta menghaluskan pakaianku.

Akhirnya sarapan itupun dimasukkan ke tempat bekal dan dibungkus dengan plastik agar tidak tertumpah. Dengan sigap istriku menyiapkannya pagi itu, segala kebutuhanku.

Kemudian ku minta istriku untuk mengantarkanku ke terminal, karena aku juga khawatir jika rombongan bus akan bersilang arah denganku. Di perjalanan yang seberapa jauhnya istriku terus saja menyarankan untuk mengisi pulsa HP ku. Dia khawatir jika nanti aku berselisih arah dengan bus yang ditumpangi rekan-rekan kantorku. Entah, mengapa aku tak begitu menanggapinya. Dan bahkan saat dia hendak pulang aku sama sekali tidak mengatakan apa-apa.

Selang beberapa menit kemudian, HP ku berbunyi. Dan sungguh tak kusangka jika HP ku mendapat kiriman pulsa. Ya, aku bisa menebaknya. Pastilah istriku yang mengirimkannya untukku. Sejenak aku berfikir, betapa merasa bersalahnya aku.

Aku tak berfikir sejauh itu. Aku merasa bersalah. Betapa kurasakan perhatian dari istriku yang begitu besar. Mulai dari menyiapkan sarapan pagi tadi, menyetrika bajuku hingga membelikan pulsa untukku. Ya Alloh, betapa aku telah salah karena mengabaikan kebaikan yang ada di sekitarku, dari istriku yang begitu tulus memperhatikan segala kebutuhanku.

Tak sabar rasanya aku untuk bertemu dengannya. Tak sabar rasanya ingin kukecup keningnya. Tak sabar rasanya ingin kugenggam tanggannya. Tak sabar rasanya ingin kuucapkan terima kasih, terima kasih karena sudah memperhatikanku, terima kasih karena peduli padaku. Pagi itu, bus melaju teriring doa nun jauh di sana. Seorang wanita yang aku cintai. Seorang wanita yang aku sayangi, yang sedari kemarin tak kuperhatikan dengan baik.

Sayang, dititik saat kita bertemu nanti akan kukatakan betapa aku mencintaimu. Dan maafkanlah suamimu, karena terlambat menyadari betapa berartinya dirimu bagiku…

Di Perjalanan menuju kota Semarang

Betapapun aku tak bisa mengeja tulusmu kekasihku….

Semoga Allah menjadikan segalanya lebih indah, ketika nanti kuturunkan kaki ini dan berjumpa denganmu.

 

Sebuah kisah sederhana, yang mungkin akan memberikan kita manfaat, bagi yang tengah membina rumah tangga. Betapa besar arti sebuah ketulusan, betapa mahal harga sebuah kesetiaan, betapa tinggi nilai sebuah kepercayaan. Jadi, marilah kita sadari segala bentuk kebaikan di sekitar kita, meski itu sangat kecil.

 

Di sudut kota berhawa dingin

Seorang yang belajar mengerti arti kehidupan

Boyolali, 24 September 2011