“Assalamualaikum Warohmatullohi wabarokatuhu..
Setelah ana membaca email terakhir dari ukhti, ana tidak tahu harus berbuat apa.Kemarin ana menemui orang tua ana untuk meminta restu atas hubungan kita,sekaligus melobi kapan waktu untuk mengkhitbah Ukhti,Jawaban dari kedua orangtua ana adalah hubungan kita direstui,namun waktu untuk mengkhitbah ukhti adalah setelah ana lulus.Ana mengakui memang sulit sekali untuk mengikuti majelis ta’lim,tetapi hati ana tetap berkeinginan untuk hadir di sana.Ana mengakui sekarang memang sukar sekali untuk berjamaah 5 waktu di masjid,karena memang sulit bg ana di sebabkan peraturan yg lebih ketat ketika coass saat ini daripada masih kuliah reguler dulu.
Ana akui ana sering berkomunikasi dengan wanita-wanita,ana tidak berharap dari mereka,ana hanya ingin agar kinerja kami tdk sampai terhambat..
Ana begitu sedih ketika membaca email ukhti…
Ana berharap ukhti adalah ibu yg bisa membimbing anak-anak ana nantinya…
ana mencintai Anti..Ukhti…
tapi kalau ini memang takdir yg Alloh turunkan atas hubungan kita ini..ana yakin bahwa Alloh Maha Mengathui dan Alloh Berkuasa atas segala sesuatu.Ana Hanya pasrah terhadap takdir yg di turunkan Alloh ke ana.
Ana akan tetap mencintai Ukhti sampai ana wisuda nanti..
Jazakumulloh khoiron katsir atas semua.Afwan bila ana mengecewakan ukhti dan pasti ana banyak salah ke ukhti.Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa Ana..
Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuhu..”
–Ardi–(bukan nama yg sesungguhnya)

Kurang lebih demikianlah isi email balasan yang masuk ke inbox Sifa(Bukan nama sebenarnya)…
“astaghfirullohal’adzim,kenapa baru sekarang akhi?.
setelah entah apa yang antum lakukan kepada seorang wanita?Dan antum masih berani menyampaikan alasan-alasan?” gumam Sifa,dan ia sudah jenuh dengan perbuatannya selama ini,Ia begitu menyesali hubungannya dengan seorang ikhwan via email dan sms,meski sudah selama 5 tahun lebih tidak pernah bertemu muka.

Siapa yang tak ingin mendapatkan laki-laki shalih seperti Ardi,taat beragama,di tambah ilmu yg sedang di tekuni,yakni pendidikan kedokteran?begitu juga Sifa,ia begitu setia menanti seorang ikhwan yang dikenalnya sejak mereka sama-sama duduk di bangku SMA.Tapi harapan indah yang ia bangun hancur begitu saja setelah nomor asing menderingkan HPnya.Namun ini adalah sebentuk pertolongan ALLOH untuknya.

2 bulan yang lalu…….

“Assalamualaikum,apa benar ini mbak sifa?”suara wanita dari seberang telepon terdengar gugup menyapa Sifa.
“wa’alaikumussalam,iya benar,ini siapa ya?”jawab Sifa.
wanita itu terdiam agak lama seolah ingin menyusun kata-kata.
“Apa Mbak kenal dengan Ardi,mahasiswa kedokteran Universitas X Semester 10?
“iya memang ada apa?”heran Sifa
“Apa mbak ada hubungan dengan dia?”wanita itu balik bertanya
“Deg”jantung Sifa berdegup.Karena hubungannya dengan Ardi bisa di ketahui padahal Sifa begitu rapi menyimpan rahasia ini.
“Lho Mbak ini siapanya Ardi?”
“saya temannya saya menghubungi mbak tanpa sepengetuhannya,dan saya ingin memberitahukan kepada mbak siapa Ardi sebenarnya..Saya harap mbak percaya dengan apa yang akan saya katakan karena saya punya saksi dan bukti-bukti.”
“Lho memang Ardi kenapa?”rasa penasaran Sifa mulai terpancing.
“begini……”wanita itu mulai menceritakan dengan detil perihal Ardi.

ketika mendengar itu,Sifa hanya tersenyum-senyum saja seolah ia tak sadar jika Ardi Ikhwan yg di nantikannya selama ini,ia hanya memberi nasihat kepada wanita itu seperti halnya ia memberi nasihat kepada teman-teman akhwatnya yang lain ketika sedang dirundung masalah.Begitu pembicaraan telah usai,telepon ditutup.Sifa seolah bangun dari tidur panjang,Ia mengingat kembali sosok Ardi.Teman satu kelas di SMA.Seorang yang rajin sholat dhuha,Bersikap sederhana,pandai,aktif dlm kegiatan masjid dan kelebihan-kelebihan lain yg membuat Sifa kagum.Sifa Membandingkan dengan sosok Ardi yg didengarnya barusan,tidak pernah lagi datang ke majelis ta’lim,meninggalkan sholat berjamaah,tidak menjaga pergaulan dengan lawan jenis,merokok,berpakaian isbal,lebih-lebih setelah wanita itu mengakui bahwa mereka pernah ada hubungan khusus sejak setahun yang lalu dan mengaku pernah tidur bersama,meski saat ini Ardi telah memutuskan hubungan dengan wanita itu.
Seperti ada petir yang menyambar kepala Sifa.Ia segera berwudhu dan sholat dua rekaat.

Sifa adalah seorang akhwat yg sholihah,ia mengenal manhaj salaf sewaktu di bangku SMA melalui majalah remaja,namun ia rajin mengahdiri majelis ta’lim sejak di bangku kuliah.Begitu juga Ardi,di awal-awal kuliah ia adalah seorang yg dinilai hanif di mata teman-temannya,di percaya menjadi ketua(ta’mir)bidang kerohanian mahasiswa di kampusnya.

Setelah tiga tahun berlalu sejak mereka berpisah,masing-masing mereka memasuki semester 7 di bangku kuliah,Sifa mulai bimbang,ia mendapat banyak tawaran ikhwan yg ingin berproses dengannya.Di satu sisi ia ingin segera menyempurnakan separuh agamanya,namun di sisi lain Sifa masih mengharapkan Ardi,Karena Ia yakin Ardi adalah seorang yang shalih.Setelah mendapat pertimbangan dan dukungan dari akhwat yg di percaya,Sifa memutuskan untuk menawarkan diri kepada Ardi melalui email untuk menikahinya,krena tidak ada seorang pun yang Sifa percaya di kota tempat Ardi kuliah untuk bisa menjadi perantara mereka.Ini baru kali pertama Sifa menghubungi Ardi.

Benar dugaan Sifa,Ardi juga punya perasaan yg sama terhadap Sifa,tapi Ardi meminta waktu kpada Sifa,Sifa mengiyakan.Ia memberi kesempatan Ardi untuk mepersiapkan diri,meskipun ia tidak tahu sampai kapan ia akan menanti,karena saat itu Ardi belum memberi kepastian kapan ia akan datang mengkhitbah.Sifa pun memutuskan utk tidak lagi menghubungi Ardi,kecuali untuk hal-hal yg sangat penting,hingga saat Ardi telah siap.

Setahun berlalu…..
semenjak penawaran diri Sifa,mereka tidak pernah berhubungan kecuali utk memberikan informasi-informasi penting,dan itu jarang mereka lakukan.Hingga saat Sifa Menerima telepon dari Wanita Itu.

Sifa kemudian mulai menyelidiki Ardi secara diam-diam.Bukti-bukti dan saksi mengarah bahwa Ardi sekarang memang benar-benar telah berubah.Akhlaknya tak lagi hanif,amalannya tak lagi seperti dulu,ia banyak bergaul dengan teman-teman yg tidak mengenal ta’lim…Sifa benar-benar kecewa.Kemudian dia semakin mengkhusykkan shalatnya,ia bersimpuh,menangis,dan menyerahkan segala urusannya kepada Alloh Ta’ala.Sifa terngiang-ngiang ucapan wanita itu.Ada rasa tidak percaya,tapi wanita itu berkata jujur.Meskipun Sifa tau tidak seharusnya wanita itu membuka aibnya bersama Ardi.Namun Sifa mulai menyadari,mungkin inilah jawaban Alloh Ta’ala atas sholat Istikharahnya selama ini.Jawaban Atas penantian yang melelahkan….